Pages

Selasa, 01 Juni 2010

DENDAM ITU SANGAT MAHAL HARGANYA

Aku berjalan dengan seorang temanku, seorang anggota kelompok Quaker, menuju sebuah stand koran malam itu. Ia membeli sebuah koran, dengan sopan ia mengucapkan terima kasih kepada penjualnya. Namun penjual koran itu tidak mempedulikan ucapan tersebut.

“Orang yang tidak sopan, ya?” komentarku.
“Oh, setiap malam ia selalu begitu,” sangkal temanku.
“Lalu mengapa Anda terus begitu sopan kepadanya?” tanyaku.
“Kenapa tidak?” sanggahnya. “Kenapa aku membiarkannya menentukan bagaimana aku akan bertindak?”

Saat aku memikirkan kejadian itu selanjutnya, muncul dalam benakku bahwa ungkapan yang penting adalah “tindakan”. Temanku bertindak terhadap orang lain; kebanyakan kita bereaksi terhadap mereka.

Ia memiliki suatu indera keseimbangan mental yang tidak ada pada sebagian besar kita; ia tahu siapa dirinya, untuk apa ia bersikap, dan bagaimana ia akan berperilaku. Ia tidak mau membalas ketidaksopanan dengan ketidaksopanan, karena dengan itu ia tidak lagi mampu mengendalikan perilakunya. (Sebagaimana diceritakan Sidney J. Haris dalam buku “Mind Power”).

****
Hidup ini tidak selamanya putih, dan juga tidak selamanya hitam. Ada kalanya hitam dan adakalanya putih. Begitu pun dengan karakter manusia; ada yang jahat dan ada yang baik. Allah telah mengilhamkan kepada hati: “fujuroha wa taqwaha”.

Dari sana kita dapat mengambil pelajaran penting bahwa tidak selamanya kita mendapatkan kawan yang baik, yang selalu melontarkan kebaikan-kebaikan bukan hinaan-hinaan, yang mengajak kita pada keimanan bukan kemaksiatan, yang menutup aib-aib kita bukan memfitnah kita.

Kadang kita mendengar A, B, C, D mengatakan kata-kata kasar yang mengusik ketenangan kita. Tuduhan-tuduhan busuk mengarah kepada kita ibarat lemparan pecahan beling yang mengenai muka dan tubuh kita, terasa perih menyayat hati. Kadang yang mangatakan itu adalah teman yang terdekat dengan kita, kadang melalui orang lain yang dia terima dari teman kita, dan lain sebagainya.

Ingin rasanya marah, benci, dendam, melumatnya hingga mati. Ingin rasanya mengata-ngatainya lagi; membalas ketidaksopanan dengan ketidaksopanan, hinaan dengan hinaan, percikan api dengan percikan api. Tapi itu tidak menyelesaikan masalah. Jika kita meladeninya, masalah kita justru malah semakin bertumpuk; yang satu belum selesai yang lain muncul lagi. Kemarahan, kebencian, dendam kesumat membuat tubuh bergetar hebat, nafas memburu, darah dalam tubuh mendidih dan uapnya menutup akal sehat kita sehingga kita bisa mati terbunuh karenanya, atau melakukan hal-hal yang bertentangan dengan yang selama ini kita ketahui bahwa itu tidak baik.

Ada seorang pengendara sepeda motor yang karena sedikit terserempet mobil, dia marah-marah lantas kemudian menancapkan belati yang dia bawa ke perut pengendara mobil tersebut. Pengendara mobil tersebut tewas seketika karena kehabisan darah! Pengendara sepeda motor itu ditangkap kemudian di penjara. Dia menyesal kenapa dia melakukan seperti itu. “Saya khilaf” akunya. Berhati-hatilah jika bermain api. Jangan engkau perbesar ia dengan menambah amunisi yang akan semakin memperbesarnya. Syetan itu sangat senang melakukan hal-hal semacam itu.

Sejauh data-data tertulis yang ada, orang menghadapi kematian mendadak saat ia mengalami ketakutan, kemarahan, kesedihan, penghinaan atau kegembiraan yang sangat. Pada awal abad masehi, Raja Romawi, Nerva, dilaporkan meninggal akibat “akses kemarahan yang hebat” terhadap senator yang telah menyinggung perasaannya. Pope innocent IV dikabarkan meninggal mendadak akibat “efek-efek kemarahan yang mengerikan bagi sistem tubuhnya” karena kekalahan-kekalahan tentaranya oleh Manfred, Raja Sicilian.

Oleh karena itu, Rasulullah Saw memandang bahwa yang dimaksud orang kuat itu bukan orang yang jago berkelahi, tetapi orang yang kuat adalah orang yang sanggup mengendalikan amarahnya ketika ada kesanggupan untuk marah. Di dalam tubuh kita ini sudah ada unsur api (fujuroha), di samping unsur cahaya (taqwaha). Sehingga jika kita menambahi api itu dengan api yang lebih besar (amarah), maka hasilnya akan jauh lebih besar dan besar.

Contoh dalam mengendalikan amarah telah diperlihatkan oleh Rasulullah dan orang-orang beriman lainnya. Ketika Rasulullah berdakwah ke Thaif, beliau dilempari oleh penduduknya dengan batu sambil di hina: Sesungguhnya kami benar-benar memandang kamu dalam keadaan kurang akal (gila) dan sesungguhnya kami menganggap kamu termasuk orang-orang yang berdusta. (Al A'raaf : 66). hingga tubuh beliau berdarah-darah. Beliau tidak marah. Beliau menangis tersungkur disuatu tempat sambil berdoa kepada Allah. Melihat itu, malaikat Jibril mengatakan kepada beliau, jika beliau berkenan, dia akan menghimpit penduduk thaif dengan dua gunung yang ada disekitarnya. Dengan airmata berlinang beliau mengatakan, “Jangan, mereka hanya tidak tahu siapa aku. Mudah-mudahan di hari nanti mereka menerima dakwahku.”

Sungguh mulia akhlakmu ya Rasul. Mari kita mencontoh akhlak Rasul ini. Apabila kita mendapat hinaan, dinginkan dengan doa dengan penuh kekhusyuan, “Ya Allah, jika apa yang dikatakannya benar, ampunilah aku. Sungguh hamba-Mu memang banyak sekali berbuat dosa. Namun, jika apa yang dikatakannya tidak benar, berikanlah aku pahala darinya.”

Al Hasan berkata: Seorang mukmin yang penyantun tidak akan berlaku usil sekalipun ia diusili! Lalu beliau membaca firman Allah: Apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan. (Al Furqan : 63)

Berkata Yazid bin Hubaib: Sesungguhnya kemarahanku itu berada di sandalku. Bila aku mendengar sesuatu yang tidak aku sukai, aku ambil sandalku itu dan aku pun berlalu.

by mafaza
sumber : http://penulis-muda.blogdrive.com/

0 komentar:

Poskan Komentar